KISAHKU MENGENAL MANHAJ AL HAQ BERSAMA PAK RIDWAN

Kamis, 12 Mei 2011

Penulis : Al-Akh Abu Muhammad Syahrial

Saya teringat dengan seseorang yang dengan perantaranya, saya bisa mengenal manhaj yang haq ini. Awalnya saya tahu sedikit tentang salafy namun terjebak oleh golongan yang mengaku-ngaku sebagai salafy. Sehingga manhajku juga sembrawut, warna warni. Pak Ridwan, dialah orangnya yang saya tidak tahu lagi dimana keberadaannya sekarang.

Waktu itu sekitar tahun 2006 atau 2007 saya di dalam bus menuju Samarinda dari Balikpapan. Duduk di sebelah kiri agak belakang di deretan dua kursi, namun kursi di sampingku masih kosong. Baru beberapa menit keluar dari terminal,beberapa orang menahan bis untuk menumpang, dua laki laki dan dua perempuan. Yang laki laki panjang jenggotnya dan celananya gantung, celanaku juga gantung waktu itu namun masih dengan digulung, jenggot masih halus, perempuannya bercadar dengan pakaian hitam hitam, yang satu dari laki laki itu duduk di sampingku, satunya lagi agak di belakang, yang akhwat bingung nyari tempat duduk, untung ada dua kursi kosong di samping dua cewek. Mereka harus duduk terpisah-pisah karena bus sudah agak penuh.

Waktu itu saya berfikir "ribet banget sih pakai cadar segala, bikin repot orang aja nyari tempat duduk" udah, bis berjalan, belum ada yang ngomong. Saya angkat kakiku agar dia lihat celanaku juga gantung, biar dia (yang disampingku) ngajak aku ngobrol, hehe padahal celana jeans yang digulung. Seperti biasa, saya senang baca buku dalam perjalanan. maka kubukalah buku kesayanganku dulu yang memberi banyak pengaruh terhadap pemikiranku waktu itu. yaitu sebuah majalah yang sering saya beli namun tidak berlangganan ya'ni majalah SABILI, majalah yang hampir full dengan gambar makhluq bernyawa, itulah majalah kebanggaanku dulu. Ternyata itu menarik perhatian bapak yang disampingku tadi. Dia kemudian bertanya

"Langganan Majalah Sabili-kah?"
kujawab "Tidak, tapi sering beli"

Seingatku, dia mengambil dan melihat-lihat isinya. kemudian mengembalikannya kepadaku kembali. kalau tidak salah, majalah itu yang membahas tentang aksi FPI (Front Pembela Islam –ed) dan ada gambar habibnya di dalam. Dia kemudian mulai bicara panjang lebar, membongkar banyak kesesatan dalam majalah Sabili dan yang sejalan dengannya.

Saya terheran heran waktu itu, aneh sekali padahal itu adalah majalah kebanggaanku yang banyak dikonsumsi teman temanku juga. kudengarkan baik baik ucapannya. salah satu ucapannya yang masih teringat kuat pada diriku adalah saat dia membantah teroris. ketika dia mengatakan bahwa dia dan teman-temannya bukan teroris walaupun berjenggot panjang dan bercelana puntung. katanya kemudian "bahkan kami akan ngasi tau tentang teroris itu jika kami tahu tempat persembunyiannya" atau perkataan beliau yang semakna dengan itu.

Kayaknya dulu masih zaman zaman merebaknya teroris DPO (Daftar Pencarian Orang –ed), masyaAllah ketika itu saya cenderung agak berpihak pada teroris itu, diantara kebingungan apakah teroris itu benar atau tidak. padahal waktu itu saya punya beberapa buku terjemahan dari kitab Syaikh al-Albani, namun masih bermanhaj warna warni. ikut sana ikut sini, yang penting "niatnya" baik.

Beliau memberi banyak nasehat namun saya lupa nasehat-nasehatnya. karena banyak merupakan hal baru bagiku. Dia mengundangku untuk ikut ta'lim di balikpapan, kilometer 5,5. Angka inilah yang nantinya jadi acuanku. Dia menyebutkan bahwa disana adalah pondok salafy. saya yang waktu itu masih samar mana salafy mana sufi. nggak kenal keduanya. jadi masih bingung dengan perkataannya, apakah dia mengatakan salafy atau sufi. kalau sufi memang sudah saya tahu kalau menyimpang, namun tidak kenal banyak jadi bingung antara keduanya.

Dia memberi banyak nasehat namun saya lupa banyak juga karena nasehatnya banyak yang bersifat asing bagiku waktu itu. Beliau kemudian mmberiku nomor hp, dan menyebutkan namanya "Pak Ridwan" Saya lupa, apakah Pak Ridwan atau Abu Ridwan karena saat itu saya tidak banyak kenal istilah 'abu' 'abu', yang paling kuat dalam ingatanku adalah namanya Pak Ridwan.

Mereka turun sebelum jembatan panjang Sungai Mahakam. katanya nyambung mobil lagi nantinya. kami berpisah disitu karena saya turunnya di terminal lewat jembatan Mahakam.

Kayaknya waktu itu 2006 bukan 2007 Agak lupa juga karena dulu tidak terlalu kuanggap sangat berkesan kejadian itu.

Kilometer 5,5 belakangan saya ketahui bahwa itu adalah Ma'had ahlu sunnah yang diasuh oleh Ustadzuna Asykari hafidzahullah baru menginjakkan kaki di mesjidnya di tahun 2009, sungguh jarak yang sangat jauh dari kejadian di bis tersebut. Zaman diantaranya saya masih abu abu. ikut JT, seneng PKS, Wahdah juga sangat kusukai, dll.

Sebenarnya sudah sangat ingin ke pondok Km 5,5 itu namun tidak ada kendaraan pribadi. Kutanykan pada temanku alamatnya, katanya harus naik angkot berkali kali. Alhamdulillah tahun 2009 bulan 3, Allah memudahkanku untuk beli motor sehingga bisa menginjakkan kaki di mesjid Za'adul Ma'ad di Ma'had Ibnul Qayyim.

Ana ceritakan kisah ini, karena kerinduanku yang sangat kepada Pak Ridwan. seingatku, tidak pernah kuhubungi nomor telpon beliau kecuali 1 kali sampai akhirnya nomor telponnya hilang dari hpku. entah kemana nomor telpon beliau itu. Ana juga sudah lupa wajah beliau, Semoga Allah mempertemukan kami kembali.

Bagi antum yang mengenal beliau, mohon sampaikan hal ini kepada beliau bahwa ana mencari beliau.
Semoga bisa ketemu dan saling kenal dengan beliau saat dauroh di Balikpapan nanti.

Adapun kisah lain termasuk pertama kali ketemu Ustadz Asykari (waktu itu ana tidak kenal beliau) sebelum ke kilometer 5,5 itu juga merupakan kisah indah tersendiri. kemudian juga waktu dauroh beliau di mesjid istiqomah Balikpapan membahas masalah musik dan nasyid (ana tdk tahu istilah dauroh waktu itu) yang disitu ana lihat ratusan manusia dengan wanita wanitanya serba hitam hitam, gelap pakaiannya. banyak anak kecil yang bercadar. itu adalah kisah tersendiri yang juga berkesan.

Disitu pula ana lihat wartawan radio hendak mngambil foto ustadz namun dicegah oleh seorang ikhwan. sungguh hal hal asing buat ana waktu itu.

Disalin sesuai aslinya dengan perubahan seperlunya, Sumber : http://www.facebook.com/?ref=home#!/note.php?note_id=454522298400

Faidah yang bisa diambil dari kisah ini (tambahan dari Admin) :

1. Adanya sebagian kelompok dakwah yang menisbahkan diri kepada dakwah salafiyyah yang hakekatnya hanyalah pengakuan semata telah membuat bingung sebagian orang awam yang hendak kembali manhaj salaf;
2. Hendaknya kita selalu menampakkan syi’ar-syi’ar sunnah walaupun ketika bepergian (safar);
3. Hendaknya kita bersemangat menyampaikan ilmu kepada orang-orang awam pada setiap kesempatan karena kita tidak tahu, bisa jadi sebagian penjelasan kita menjadi sebab hidayah bagi mereka dalam mengenal manhaj yang haq;
4. Hendaknya kita senantiasa memperingatkan ummat dan menjelaskan hakikat media-media dakwah ahlul bid’ah yang padanya terdapat penyimpangan dan kerancuan-kerancuan (syubhat) khususnya media yang diterbitkan oleh kelompok-kelompok khawarij (teroris) dengan berbagai bentuknya;
5. Hendaknya kita menjelaskan kepada manusia bahwa dakwah salafiyyah sangat menentang segala bentuk ideologi dan aksi-aksi teror yang mengatasnamakan Jihad dan Islam karena hal tersebut dibangun diatas kekeliruan dalam memahami dan mengaplikasikan ajaran Islam yang sebenarnya, serta menjelaskan bahwa jenggot, celana gantung, dan muslimah berhijab secara syar’i dan bercadar adalah sunnah Nabi yang harus dijalankan oleh setiap muslim yang mukallaf dan hal tersebut bukanlah ciri-ciri teroris;
6. Berupaya menunjukkan alamat markiz-markiz salafiyyin agar memudahkan orang-orang untuk mencari ilmu syar’i dari ahlinya;
7. Hidayah mengenal sunnah dan berpegang dengannya adalah seutama-utama hidayah setelah hidayah Islam dan Iman. Wallahu a’lam.

1 komentar:

Haafizhah 24 Juni 2011 13.44  

Bismillaah.
Maasyaa Allaah... Anaa menangis membaca habis kisah indah ini...
Semoga Antm dipertemukan dng Pak Rahmat.
Baarakallaahu fiikum.

Posting Komentar

Radio Online

Twitter Update



  © Blogger template The Professional Template II by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP